DPRD Koter Intervensi
Home / Intervensi / Kasus HIV/AIDS di Ternate Mengkhawatirkan, Nurlaela Syarif Desak Kewaspadaan Kolektif dan Benahi Stok Obat

Kasus HIV/AIDS di Ternate Mengkhawatirkan, Nurlaela Syarif Desak Kewaspadaan Kolektif dan Benahi Stok Obat

TERNATE, sijege.id – Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif, memberikan sorotan tajam terhadap kebijakan Pemerintah Kota Ternate dalam menangani tiga penyakit menular utama, yakni AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria, atau yang dikenal dengan istilah ATM.

​Dalam agenda reses jalin aspirasi di sejumlah Fasilitas Kesehatan (Faskes) di Kecamatan Ternate Tengah, Nurlaela menemukan data yang cukup mengkhawatirkan terkait penyebaran HIV/AIDS yang masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
​Potret Merah Angka HIV/AIDS di Ternate.

Nurlaela mengungkapkan bahwa data kumulatif penderita HIV/AIDS di Kota Ternate saat ini berkisar di angka 800 penderita. Secara persentase, angka ini berada di level 3 persen, sementara target SDGs pada tahun 2030 mengharuskan angka tersebut ditekan hingga 1 persen.

​Sebagai contoh konkret, di salah satu Puskesmas di Kecamatan Ternate Tengah, tercatat total 98 pasien HIV dengan rincian:
​71 orang sedang dalam proses pengobatan. 16 orang berstatus Loss to Follow Up (LFU) atau putus obat. 7 orang dinyatakan meninggal dunia.

​”Ini harus menjadi kewaspadaan kolektif. Bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga orang tua,” tegas politisi yang dikenal vokal menyuarakan isu kesehatan dan sosial ini.

Usia Produktif dan Kelompok Berisiko

​Yang menjadi perhatian serius Nurlaela adalah sebaran usia penderita. Data menunjukkan bahwa penderita kategori usia 15-39 tahun sangat mendominasi dengan jumlah 88 orang, sementara kategori usia 40-50 tahun tercatat sebanyak 10 orang.

Nurlaela menekankan pentingnya edukasi masif kepada kelompok rentan, terutama kategori penularan Lelaki Seks Lelaki (LSL) sebagai pasangan paling berisiko. Selain itu, tren Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti keluhan kencing bernanah di kalangan remaja juga menjadi alarm bahaya.

“Resiko kena HIV sangat tinggi bagi pasien IMS. Mereka harus diskrining secara berkala. Jika awal negatif, harus diulang 3 bulan kemudian. Jika positif, harus segera dilanjutkan ke pemeriksaan Reagen 2 dan 3 untuk penegakan diagnosa,” jelasnya.

Kelangkaan Obat dan Optimalisasi Kolaborasi

Selain masalah data, Nurlaela menyayangkan temuan kekosongan stok obat jenis Benzatine Peniciline yang sangat krusial untuk pengobatan pasien sifilis.

DPRD Kota Ternate Pastikan Agenda Tetap Normal, Tim Hukum Ditunjuk Kawal Marwah Lembaga

Ia mendesak pemerintah segera membenahi manajemen logistik obat-obatan di setiap faskes.

Guna menekan angka penularan, Nurlaela mendorong Dinas Kesehatan dan seluruh faskes untuk mengoptimalkan kerja sama dengan komunitas pendamping seperti: YPM, Batamang Plus, Zip, PKBI Manado

Ia juga meminta penguatan jejaring hingga ke tingkat Kelurahan, Dasawisma, dan lembaga pendidikan. Strategi pencegahan melalui perilaku seksual yang aman, penggunaan kondom, hingga vaksinasi harus terus didengungkan agar tidak menjadi ancaman bagi lingkungan pergaulan remaja di Kota Ternate.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement