TERNATE, Sijege.id — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan bahwa pusaka daerah bukan sekadar benda tua, peninggalan masa lalu, atau bangunan bersejarah semata. Lebih dari itu, pusaka menyimpan identitas, sejarah, serta perjalanan peradaban bangsa yang harus terus dihidupkan untuk generasi mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Sherly Tjoanda saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang berlangsung di Bela Hotel Kota Ternate, Maluku Utara Jumat (28/08).
Dalam penyampaiannya, Sherly mendorong pentingnya percepatan digitalisasi pusaka agar rekam jejak sejarah tidak hilang tergerus zaman maupun ancaman bencana alam. Menurutnya, setiap benda atau situs pusaka perlu didokumentasikan secara menyeluruh, mulai dari bentuk fisik, foto, hingga latar belakang cerita dan nilai sejarah yang melekat.
”Pusaka harus didokumentasikan secara detail, mulai dari foto, sejarah, hingga cerita di dalamnya. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan sistem penyimpanan cloud, rekam jejak warisan sejarah kita akan tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi penerus, bahkan jika bentuk fisiknya mengalami kerusakan,” ujar Sherly.
Bagi Sherly Tjoanda, inti dari pelestarian cagar budaya dan pusaka adalah memastikan nilai serta cerita di baliknya tetap hidup di tengah masyarakat.
Konsep Living Heritage dan Peluang Ekonomi Kreatif
Selain digitalisasi, Sherly menekankan pentingnya menerapkan konsep living heritage—menjadikan sejarah dan budaya bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia mendorong agar warisan budaya dikemas secara kreatif tanpa mengurangi nilai keasliannya.
Pendekatan kreatif tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan ekonomi kreatif, kuliner khas, pemberdayaan UMKM, hingga pembuatan konten digital seperti komik dan animasi/kartun budaya.
”Pengembangan ini tidak hanya mengenalkan sejarah kepada generasi muda dengan cara yang relevan dan menarik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat berbasis kekayaan budaya daerah,” tambahnya.
Menjaga Cerita di Balik Pusaka
Bagi Sherly Tjoanda, inti dari pelestarian cagar budaya dan pusaka adalah memastikan nilai serta cerita di baliknya tetap hidup di tengah masyarakat.
”Apa artinya benteng bersejarah masih berdiri tegak 100 tahun lagi jika generasi penerus tidak lagi tahu kisah dan maknanya? Karena itu, digitalisasi, kreativitas, dan keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci agar pusaka tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan di masa depan,” tegasnya.
Melalui langkah integrasi teknologi dan ekonomi kreatif ini, diharapkan kota-kota anggota JKPI, khususnya di Maluku Utara, mampu menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. (Sje/red)




Comment