TERNATE,Sijege.id — Komisi III DPRD Kota Ternate mendorong optimalisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2023 tentang Gerakan Literasi di Kota Ternate.
Langkah ini dinilai mendesak untuk mendongkrak minat baca sekaligus merespons masih rendahnya capaian akademik siswa di Kota Ternate.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate Nurlaela Syarif dan Muslim Sahil, saat meninjau pameran Depo Arsip Benteng Oranje Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ternate di sela-sela gelaran Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026, Jumat (28/08/2026).
Nurlaela Syarif menjelaskan bahwa perda gerakan literasi merupakan inisiatif DPRD Kota Ternate untuk menumbuh kembangkan budaya membaca, meningkatkan mutu pendidikan, serta memicu kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

”Penerapan Perda Gerakan Literasi ini mencakup tiga ruang lingkup utama, yaitu lingkungan satuan pendidikan, masyarakat, dan keluarga,” ujar Nurlaela yang juga aktif mengelola taman baca masyarakat tersebut.
Nilai Bahasa Indonesia Siswa SD Masih di Bawah Rata-Rata Nasional
Langkah responsif DPRD ini dilandasi oleh data hasil asesmen mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SD di Kota Ternate yang tergolong masih prihatin. Data Asesmen Bahasa Indonesia Tingkat SD di Kota Ternate :
- Rata-rata Nilai Siswa Ternate: 53,69
- Target Rata-rata Nasional: 60,17
- Siswa Kategori “Kurang”: 40,78%
Data tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh siswa SD di Ternate masih memiliki kemampuan literasi yang belum memadai.
Akar Masalah : Siswa Belum Menguasai Siklus Membaca Utuh
Menanggapi temuan tersebut, Anggota Komisi III DPRD Ternate sekaligus Ketua DPC Partai Hanura, Muslim Sahil, mengungkapkan bahwa kendala utama siswa di lapangan bukan sekadar kemampuan merangkai kata atau mengejar.
”Temuan kami bersama para relawan gerakan literasi menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam asesmen bukan karena tidak bisa membaca. Tantangan utamanya adalah mereka belum menguasai siklus membaca yang utuh,” terang Muslim.
Siklus membaca utuh yang dimaksud meliputi tiga tahap penting Input: Membaca teks secara visual. Proses, memahami isi dan makna bacaan, dan output, menyampaikan kembali gagasan atau informasi secara lisan maupun tulisan.
Dorong Kolaborasi Taktis dengan Komunitas Literasi
Sebagai solusi, DPRD Kota Ternate mendesak adanya intervensi taktis dari Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan Kota Ternate sebelum pelaksanaan asesmen mendatang.
Salah satu langkah konkretnya adalah merangkul para relawan dan penggiat literasi lokal untuk memaksimalkan program Ternate Membaca.
”Kami akan mendorong dinas terkait untuk inovasi pada metode pembelajaran. Agar minat dan kemampuan membaca siswa SD bisa melesat, dengan suasana yang nyaman, pemerintah harus berkolaborasi langsung dengan komunitas penggiat literasi yang ada di Kota Ternate,” tegas Muslim.
Melalui integrasi antara perda gerakan literasi, strategi pendidikan yang tepat, dan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan kualitas literasi anak-anak di Kota Ternate dapat meningkat signifikan. (Sje/red)




Comment