Oleh:
Syahril Muhammad,
Ketua Masyarakat Sejarawan
Indonesia Cabang Maluku Utara
Ternate,Sijege.id Ternate sedang tumbuh. Setiap hari ada tiang pancang ditancap, ada jalan diperlebar, ada kawasan baru dibuka. Pertumbuhan itu tanda kota hidup.
Tapi di tengah hiruk pikuk itu, ada satu pertanyaan yang sering kita lupa tanyakan. Kita membangun untuk siapa, dan meninggalkan apa untuk anak cucu?.
Kota tanpa sejarah ibarat manusia tanpa ingatan. Ia bisa berjalan, tapi tidak tahu dari mana datang dan hendak ke mana. Ternate bukan kota biasa. Ia adalah bekas pusat peradaban rempah dunia, tempat bangsa-bangsa bertemu, bertempur, berdagang, dan kawin-mawin.
Jejak itu masih berdiri di Benteng Tolukko, Benteng Oranje, Istana Kesultanan, kampung-kampung tua, dan nama-nama kampung yang menyimpan cerita.
Hari ini, jejak itu terancam.Bukan karena perang, tapi karena pembangunan yang tidak menoleh ke belakang. Situs digusur demi ruko. Kawasan cagar budaya dipersempit demi parkiran. Ruang publik yang dulu jadi tempat upacara adat, kini berubah jadi lahan komersial. Kita sedang menulis ulang sejarah Ternate dengan spidol beton.
Sejarawan Tidak Anti Pembangunan.
Sejarawan bukan penjaga museum yang melarang perubahan. Kami tahu kota harus maju, ekonomi harus bergerak, pemuda butuh lapangan kerja. Tapi kemajuan yang sejati adalah kemajuan yang tidak mencabut akarnya.
Membangun tanpa mengingat sejarah sama saja membangun di atas pasir.
Maka, membangun Kota Ternate tanpa menghapus sejarah berarti tiga hal:
Pertama, tetapkan batas yang tegas
Kawasan cagar budaya, situs sejarah, dan ruang adat harus dikunci dalam RTRW sebagai zona perlindungan mutlak. Bukan sekadar “boleh dibangun dengan kajian”, tapi “tidak boleh diganggu”. Peta sejarah harus sama kuatnya dengan peta investasi.
Kedua, jadikan sejarah sebagai modal pembangunan.
Benteng, istana, kampung tua, bukan beban. Itu adalah aset wisata, identitas, dan kebanggaan. Singapura, Kyoto, bahkan Yogyakarta maju justru karena mereka merawat sejarahnya.
Wisatawan tidak datang ke Ternate untuk melihat mall yang sama dengan di kota lain. Mereka datang untuk merasakan napas Kesultanan, untuk menyentuh dinding batu yang pernah didiami Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Ketiga, libatkan masyarakat adat dan sejarawan sejak awal perencanaan. Jangan tunggu proyek jalan, baru ada sosialisasi. RTRW 2026-2046 adalah dokumen 20 tahun. Jika hari ini kita salah menggambar garis, maka 20 tahun ke depan kita akan menyesal. Ruang musyawarah harus dibuka, bukan ditutup dengan alasan efisiensi.
Ternate punya peluang menjadi kota modern yang tetap punya wajah. Kota pelabuhan yang ramah investasi, tapi juga ramah sejarah. Kota yang saat orang berjalan di Kalumata, ia masih bisa melihat laut yang sama yang pernah dilihat Sultan Baabullah. Kota yang saat anak muda nongkrong di malam hari, ia tahu bahwa di bawah kakinya pernah ada pertempuran, perjanjian, dan peradaban besar.
Sejarah tidak meminta kita berhenti membangun. Sejarah hanya meminta satu hal: jangan hapus kami saat kau menggambar masa depan. Karena kota yang hebat bukan kota yang paling tinggi gedungnya,tapi kota yang paling dalam ingatannya.
*Ternate, 20 Mei 2026*
Comment