TOBELO,Sijege.id — Di tengah gemuruh persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-V Maluku Utara Tahun 2026, sebuah riuh yang berbeda terdengar dari sudut Sanggar Dabiloha. Bukan dentum musik modern atau koreografi kontemporer yang sedang diracik, melainkan hentakan kaki dan kidung tua yang telah berusia ratusan tahun.
Jurnalis Sijege.id berkesempatan mendengar cerita Papa Aya, ketika panitia Porprov (2 minggu kemarin) datang mengetuk pintu sanggar dan meminta sang maestro, Papa Aya, untuk mengarsiteki opening ceremony, sebuah jawaban tegas langsung meluncur.
”Sanggar kami kental dengan pelestarian tradisi. Kami tidak kontemporer. Jika meminta saya menangani ceremony opening, maka itu harus berdiri di atas fondasi tradisi Tobelo,” kenang Papa Aya, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Adat Hibualamo.
Bagi Papa Aya, ini bukan sekadar panggung hiburan 16 menit di hadapan Ibu Gubernur Sherly Tjoanda, dan Ketua Umum KONI, Sarbin Sehe dan para pejabat tinggi.
Ini adalah pembuktian atas konsistensi 36 tahun—sejak Sanggar Dabiloha didirikan pada tahun 1990—dalam merawat ingatan leluhur.
Setelah berembuk dengan adik-adik pengurus sanggar, lahirlah sebuah mahakarya kolosal bertajuk: “Warna-Warni Marhai”.
Marhai—sebuah kata yang diangkat dari kedalaman kultur Tobelo—menjadi jangkar dari konfigurasi gerak yang megah.
“Lewat mahakarya ini, kita bercerita dari Tobelo untuk Maluku Utara, dan dari Tobelo kita bercerita untuk Indonesia dan dunia,” tutur Papa Aya dengan mata berbinar.
Melalui Porprov ke-V ini, Tobelo bersiap menjadi cermin bagi siapa saja yang ingin memandang keindahan Maluku Utara yang sesungguhnya.
Lima Simbol Jiwa Tobelo
Sebanyak 230 penari yang terdiri dari kader-kader terbaik Sanggar Dabiloha, berkolaborasi dengan energi muda dari SMA Negeri 6 Tobelo, SMA Kristen Tobelo, SMP 1 Halut, SMP Alegan Tobelo, dan mahasiswa Unhena Tobelo. Selama 16 menit, mereka akan melebur dalam lima fragmen tarian tradisi yang sarat falsafah:
– Tarian Denge: Sebuah tarian persahabatan purba. Sejak zaman canga-canga (para pelaut pemberani), orang Tobelo telah menguasai seni merangkul perbedaan dan menjadi sahabat bagi berbagai kaum di lautan.
– Tarian Cakalele: Hentakan jiwa yang memancarkan semangat membara Tobelo sebagai tuan rumah yang gagah berani namun penuh penghormatan.
– Tarian Kabata: Sebuah ritus sakral penyembahan dan pembuktian bagaimana manusia Tobelo menghargai alam. Menampilkan dominasi kostum hitam berpadu merah, tarian ini membawa pesan magis: bahwa manusia lahir dan dibesarkan di atas tanah, dan seluruh niat serta pengabdiannya harus dikembalikan kepada tanah dan leluhur.
– Tarian Selendang (Halmahera Sema Oru): Terinspirasi dari legenda Talaga Ina Na di penghujung utara Halmahera. Sebuah gerak estetis yang merekam tradisi Mohole atau Jujaru (gadis-gadis) saat turun mengambil air, bersolek, dan menyatu harmonis dengan alam.
Hibualamo: Dari Tobelo untuk Dunia
Puncak dari pertunjukan kolosal ini akan meledak tepat saat Ibu Gubernur Sherly memukul Tifa tanda dibukanya Porprov ke-V.
Pada detik itulah, konfigurasi 230 tubuh manusia akan bergerak, menyuarakan falsafah terdalam dari rumah adat mereka, Hibualamo.
”Siapa saja yang datang ke daerah kami, dia harus menjadi orang Hibualamo,” ujar Papa Aya.
Falsafah ini menegaskan bahwa Hibualamo bukan hanya milik suku Tobelo. Lewat simbol-simbol tarian tradisi ini, Papa Aya dan Sanggar Dabiloha ingin mengetuk hati dunia. Bahwa di tanah Tobelo, siapa pun yang datang akan didekap sebagai saudara.
Ketika olahraga menyatukan fisik dan kompetisi, “Warna-Warni Marhai” hadir untuk menyatukan jiwa manusia dalam balutan tradisi yang tak lekang oleh waktu. Sesuatu yang hanya bisa lahir dari keteguhan hati seorang penjaga budaya selama hampir empat dekade. (Erita)




Comment