Fangare
Home / Fangare / RTRW Kunci Penanggulangan Banjir di Kota Ternate

RTRW Kunci Penanggulangan Banjir di Kota Ternate

Nadhir Wardhana Salama : Direktur Eksekutif Beyond Health Indonesia

SIJEGE.id Banjir yang belakangan ini melanda Kota Ternate perlu menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meninjau kembali strategi penanggulangan bencana. Hujan lebat yang mengguyur kota saat malam takbiran mengakibatkan tiga kelurahan terendam banjir, sementara di dua kecamatan lainnya, tim SAR harus mengevakuasi sedikitnya 38 warga dengan metode “pagar hidup” akibat derasnya arus air.

Pemerintah Kota Ternate telah menyatakan komitmennya menelusuri sumber penyebab banjir, namun langkah konkret strategis diperlukan untuk mencegah peristiwa serupa terjadi di masa depan. Salah satu langkah utama segera dilakukan, meninjau kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), memastikan tata kelola ruang di Kota Ternate mendukung upaya mitigasi dan pencegahan bencana.

Peninjauan kembali RTRW sangat krusial dalam upaya preventif menghadapi bencana. RTRW bukan sekadar dokumen administratif, melainkan pedoman strategis menentukan bagaimana kota berkembang memperhitungkan keseimbangan ekologi dan daya dukung lingkungan. Jika RTRW tidak disusun dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, maka terjadi pembangunan yang tidak terkendali dan memperbesar risiko bencana.

Banyak kota yang mengalami peningkatan risiko banjir karena perubahan fungsi lahan tidak terkendali. Alih fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi permukiman atau kawasan bisnis tanpa perencanaan yang tepat berkontribusi pada peningkatan risiko banjir di daerah perkotaan. Kota Ternate harus belajar dari kasus serupa di berbagai wilayah lain di Indonesia. Tanpa revisi RTRW berbasis kajian ilmiah, upaya penanggulangan banjir hanya bersifat reaktif dan tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Tasman Balak Fraksi Gerindra Bersuara Perbaikan Pelayanan Publik

Beberapa penelitian menunjukkan perencanaan tata ruang yang tidak memperhitungkan faktor lingkungan merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir. Studi dalam Journal of Planning and Development menyebutkan pengurangan kawasan resapan air mempercepat aliran permukaan dan memperburuk dampak banjir. Tidak bisa hanya mengandalkan sistem drainase tanpa memperhatikan kawasan resapan. Jika daerah tangkapan air terus menyusut, maka banjir akan menjadi masalah yang berulang.

RTRW harus mengintegrasikan mitigasi bencana dengan menata pola aliran air, menetapkan zona perlindungan, dan membatasi pembangunan di daerah rawan banjir. Pemerintah Kota Ternate harus memastikan bahwa RTRW yang baru nantinya berbasis pada data ilmiah dan memperhitungkan risiko bencana. Jangan sampai kita hanya melakukan revisi secara administratif tanpa dampak nyata di lapangan.

Mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat juga harus menjadi prioritas dalam kebijakan tata ruang Kota Ternate. RTRW yang kuat harus mengatur pengembangan sistem drainase yang lebih baik, memperluas kawasan resapan air, serta menerapkan teknologi adaptasi perubahan iklim dalam desain infrastruktur perkotaan. Ini bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi investasi jangka panjang dalam keselamatan warga.

Selain aspek teknis dan tata ruang, banjir juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Ketika banjir terjadi, risiko penyakit menular seperti diare, leptospirosis, dan penyakit kulit meningkat drastis akibat air yang terkontaminasi dan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Oleh karena itu, RTRW yang baik juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Kesiapan fasilitas kesehatan juga harus menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana. Selain mitigasi struktural, kita juga perlu memastikan bahwa sistem kesehatan masyarakat siap menghadapi dampak banjir. Ini mencakup kesiapan fasilitas kesehatan, distribusi air bersih, hingga edukasi bagi masyarakat tentang langkah-langkah pencegahan penyakit pasca-banjir.

Rizal Marsaoly ‘Bahoba’ Puskesmas Lewat Program Rabu Menyapa

Melihat kondisi ini, Beyond Health Indonesia mendesak Pemerintah Kota Ternate untuk segera mengambil langkah konkret dengan meninjau kembali RTRW dan memastikan bahwa perencanaan tata ruang kota tidak hanya berorientasi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga. RTRW yang baik bukan hanya tentang pembagian zona, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak mengorbankan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Jika RTRW tidak diperbaiki, maka bencana seperti ini akan terus berulang dan dampaknya akan semakin besar.

Selain itu, Beyond Health Indonesia juga merekomendasikan peningkatan edukasi masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana serta penguatan layanan kesehatan dalam situasi darurat. Pendidikan bencana harus menjadi bagian dari kebijakan kota. Masyarakat yang memahami risiko dan tahu cara menghadapinya akan lebih siap ketika bencana terjadi.

Nadhir menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa revisi RTRW bukan sekadar formalitas, tetapi langkah strategis dalam membangun ketahanan Kota Ternate terhadap bencana. Kita harus beralih dari pola pikir reaktif menjadi proaktif dengan menyiapkan kota yang lebih tangguh terhadap bencana. Dengan langkah-langkah yang tepat, Kota Ternate dapat mengurangi risiko banjir di masa depan, melindungi warganya, dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement